Pengemis dan dosa-dosanya


Fenomena mencari uang dengan mengemis, sebenarnya adalah solusi mudah bagi mereka yang ingin mendapatkan uang instan tanpa kerja keras. Pernah tahu penghasilan pengemis?? Kita bisa menghitungnya misalnya saja yang ada di lampu merah.

Pernah menunggu lampu merah? Maka berapa menit disana? Dan ada berapa pengemis disana? Lampu merah umumnya 1 menit hijau dan 3 menit menunggu, maka ada waktu 3 menit untuk pengemis keliaran mencari uang. Lalu dalam 3 menit ia dapat berapa? Anggap saja para pengendara memberi masing-masing Rp 500,- maka angka terkecil kita anggap Rp 2.000,- maka berapa hasilnya selama 10 jam??

Yup, pasti lagi pusing menghitung, jawabannya benar ini bisa lebih besar dari pedagang asongan atau kalo kita mencarinya dari bisnis buka warung. Maka jadi pengemis sangat menggiurkan. Tapi TIDAK bagi mereka yang beriman dan Muslim, pengemis adalah pekerjaan paling hina. Dan dapat membawa pelakunya masuk neraka. Dan ini berlaku jika mereka mencari nafkah dengan mengemis, lalu menjadikannya sebagai sumber penghasilan, bukan sekedar mencari makan karena kelaparan dan tidak punya kemampuan dan keahlian.

Dari Al Miqdam, dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Tidak ada seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja keras tangannya sendiri. Dan Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari)

Mengemis tentu saja tidak membutuhkan kerja keras, maka makanan yang didapat dari mengemis tidaklah lebih baik dari mereka yang memungut gelas-gelas plastik bekas di pinggir jalan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari)

Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad)

Maka kecelakaan besar bagi mereka para pengemis kelak di akhirat yang kekal abadi, jika mereka beriman mereka sedikit beruntung karena mereka bisa diangkat ke surga, tetapi apakah dengan mereka mengemis untuk mencari nafkah bisa disebut beriman?? Ini sangat janggal, sebaiknya muslimin tidaklah mengemis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim)

Setelah mengetahui siapa saja yang boleh mengemis dan tidak berdosa, maka kita juga tahu celakanya para pengemis di akhirat, untuk itu kita do’akan mereka agar segera cepat taubat dan berhenti dari mengemis untuk kerjaan mereka, dan mereka memilih pekerjaan yang layak dan halal untuk masa depan keluarga dan akhirat mereka. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: